Sunday, 13 April 2014

ANALISA PSIKOLOGIS TOKOH; PROF. DR. H. MAHFUD MD

21:18



PENGANTAR


Apa yang terjadi adalah kebenaran yang harus dihormati dan harus dilaksanakan. Jadi, jangan berani melawan arus kekuatan rakyat. Dalam sejarah, tidak ada yang menang dalam melawan arus rakyat. Pasti digilas
(Moh. Mahfud MD, dalam berbagai kesempatan wawancara)


Kajian tentang kepribadian, pada dasarnya merupakan hal yang paling penting, jika tidak dikatakan yang paling inti, dalam dunia psikologi. Kepribadian akan selalu erat kaitannya dengan perilaku yang ditampilkan oleh seseorang. Dalam menjelaskan perilaku, telaah kepribadian lebih menitik-beratkan pada aspek khusus saja seperti kognisi, motivasi, afeksi, ego, dan sikap. Begitu pula prinsip yang digunakan dalam Psikologi Politik, meskipun kajian kepribadian dalam Psikologi Politik lebih sempit dan terbatas dibandingkan dengan kajian dalam psikologi secara global.

Psikologi Politik sebagai keilmuan baru yang lahir dari dua rahim yang berbeda, berdasarkan sejarahnya mempunyai kajian dasar yang berbeda pada masa perkembangannya. Sementara kepribadian, adalah teori penting dalam psikologi yang meyakini bahwa perilaku yang (di)muncul(kan) pada seseorang dipengaruhi oleh kepribadian yang dimiliki orang tersebut, termasuk dalam perilaku politik. Sehingga, fakta itulah yang kemudian menjadi salah satu penyebab lahirnya psikologi politik, yang berkembang hingga saat ini.
Jika melihat sejarahnya, kaitan dan kajian tentang kepribadian dan politik tentu bukanlah hal yang baru. Sejarah studi kepribadian dan politik, bahkan menjadi salah satu riset tertua yang muncul pada tahun 1920-an untuk mengevaluasi perilaku politik para pemimpin yang berkuasan saat itu. Fakta ini sama dengan yang dituliskan oleh Cottam, dkk., bahwa pada masa pertumbuhan Psikologi Politik yang pertama yang menitik-beratkan pada kajian kepribadian (terutama dalam perspektif Psikoanalisis) terhadap pemimpin politik[1]. Dan, bahkan jika mau dirunut ke belakang, kita akan menemukan sebuah fakta, bahwa dari dulu, sejak zaman Yunani, banyak para filsuf yang sudah membicarakan keterkaitan antara diri seseorang dengan perilakunya dalam berpolitik (dalam hal ini menjadi seorang pemimpin).
Dalam konteks inilah, Psikologi Politik menjadi sangat penting untuk dipelajari dan dikembangkan sebagai sebuah keilmuan yang mandiri dengan sebuah asumsi dasar, bahwa perilaku seseorang dalam berpolitik_ketika menjadi seorang pemimpin yang mengharuskannya untuk mengambil kenijakan dan keputusan_dipengaruhi oleh kepribadian yang dimilikinya. Tentu saja ada banyak pro dan kontra, antara tokoh yang mendukung dan menolak dengan teori itu. Tapi, yang harus ditekankan dan sudah menjadi teori umum, bahwa dalam psikologi, sebagaimana dikatakan Lewin, perilaku adalah fungsi dari personality dan environment.
Kenyataan inilah yang kemudian membuat banyak ilmuan tertarik untuk meneliti kepribadian beberapa tokoh politik kaliber dunia, seperti Adolf Hitler, Saddam Husein, Mahatma Gandhi, George Bush, Barrack Obama, Martin Luther King, dan banyak tokoh lainnya. Dalam islam, bahkan banyak para ilmuan dan ulama yang mencoba menjelaskan bagaimana kepribadian Rosulullah dan para shahabat serta tokoh penting lainnya. Selain untuk mengetahui kepribadian para pemimpin dan bagaimana hal itu berpengaruh terhadap perilakunya, kajian tematik tentang hal itu untuk menjelaskan dan mengambil pelajaran dari fakta yang ditemukan.
Terkait dengan penjelasan singkat di atas, tugas makalah ini adalah analisa psikologis terhadap beberapa tokoh di Indonesia sebagai tugas untuk bisa mendapatkan nilai UAS pada mata kuliah Psikologi Politik. Dari segi teori dan kajian, tugas ini tentu sangat menarik dan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analisis secara kualitatif terhadap sebuah fenomena secara mendalam, apalagi terkait dengan kepribadian dan politik dalam sebuah frame yang sama.
Secara perkembangan dalam sejarah psikologi politik, kajian ini mencoba “mundur” kembali pada beberapa puluh tahun yang silam, karena kajian yang berkembang dalam psikologi politik saat ini adalah perilaku memilih, kebijakan politik, serta motivasi dalam dunia politik. Namun, semua itu tidak mengurangi kenyataan bahwa kajian dan pembahasan serta analisa mendalam tentang tokoh (terutama dalam dunia politik) tetaplaj menjadi sesuatu yang akan menarik sampai kapan pun.
Maka, dalam makalah ini, penulis akan mencoba untuk memberikan penjelasan dan diskusi tentang analisa psikologis seorang tokoh yang beberapa tahun terakhir semakin menjadi “the rising star”, tidak hanya dalam dunia akademis yang cemerlang, tapi juga dalam dunia politik dan kepemimpinan yang dianggap berani dan nyeleneh tapi sangat substantif, bahkan dalam tahun terakhir ini, ia digadang-gadang sebagai calon presiden alternatif paling layak dan diperhitungkan karena memperoleh banyak dukungan, bahkan dari kaum grass root. Sehingga, kenyataan inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji dan melakukan analisa psikologis terhadap tokoh tersebut. Tokoh itu adalah Prof. Dr. Mahfud MD, seorang tokoh nasional yang berasal dari kampung, tepatnya di Madura sana, dan telah berhasil memukau banyak orang dengan prestasi luar biasa, terutama ketika menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008 – 2013.
Tentu saja, karena beberapa hal yang berkaitan dengan kemampuan serta teori yang masih sangat dasar, dalam makalah ini pasti ditemukan banyak sekali kesalahan dan kekurangan (untuk tidak dikatakan mengecewakan), sehingga perbaikan harus tetap ada untuk membuat makalah ini menjadi semakin sempurna dan representatif.



PEMBAHASAN


A.    Kepribadian dalam Psikologi Politik
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai interaksi psiko-fisik yang berjalan secara dinamis dalam menentukan perilaku dan cara seseorang berinteraksi dengan lingkungannya. Kepribadian, menurutnya, bukanlah sesuatu yang statis karena selalu mengikuti dinamika serta pergolakan individu itu. Artinya, kepribadian tidak akan pernah bisa dilepaskan dari konteks, yang memberikan pemahaman, bahwa kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan dimana seseorang itu tinggal dan mengadakan interaksi, bahkan beberapa penelitian terakhir mengarah pada peran lingkungan yang lebih dominan dalam menentukan perilaku yang akan ditampilkan oleh seseorang, termasuk juga dalam perilaku politik.
Psikologi Politik sebagai keilmuan yang sangat tepat untuk mengkaji bagaimana kepribadian mempengaruhi perilaku politik berusaha menjelaskan beberapa hal penting diantaranya; teori dan pendekatan dalam mengkaji kepribadian dan politik, dan kerangka kerja psikologi politik dalam bingkai kepribadian. Sehingga dari hasil kajian dan analisis itu dapat diperoleh sebuah kesimpulan yang representatif tentang kepribadian seseorang serta kaitannya dengan perilaku politik yang ditampilkan.
Dalam menjelaskan perilaku, telaah kepribadian lebih menitik-beratkan pada aspek khusus saja seperti kognisi, motivasi, afeksi, ego, dan sikap. Begitu pula prinsip yang digunakan dalam Psikologi Politik, meskipun kajian kepribadian dalam Psikologi Politik lebih sempit dan terbatas dibandingkan dengan kajian dalam psikologi secara global.  Secara garis besar, ada beberapa orientasi dan kerangka teoritis dalam kajian berbasis kepribadian dalam dunia politik, yaitu; Psikoanalisis (psychoanalytic), teori berbasis watak (trait-based theories), dan teori berbasis motivasi (motive-based theories).
Beberapa metode yang digunakan itu memungkinkan analis untuk mendapatkan informasi melalui analisa kepribadian seseorang dengan menggunakan pisau psikologi dan politik secara bersamaan. Kajian untuk menganalisa kepribadian seseorang biasanya menggunakan Psikobiografi, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan dalam psikologi politik dengan menggunakan pisau analisis psikoanalisis, meskipun tidak semua psikobiografi dilakukan dengan berbasis pada teori psikoanalisis.

B.     Alasan Memilih Tokoh
Ada beberapa alasan yang membuat penulis memilih Prof. Dr. Mahfud MD (selanjutnya Mahfud MD saja) sebagai tokoh untuk dianalisis;
1.      Beberapa tahun terakhir, Mahfud MD menjadi bintang baru dalam dunia politik Indonesia, meski dirinya berkecimpung sudah lama dalam dunia politik dan cukup mengecap pahit-manis perpolitikan (praktis) di Indonesia.
2.      Keberanian, ketegasan, kesabaran, sifat sosial, dan beberapa sikap dan sifat lainnya sangat menarik untuk dikaji secara lebih luas. Perilaku yang ditampilkan mampu menjadi magnet baru yang membuat rakyat Indonesia mempunyai harapan baru, dan secara psikologis hal ini sangat menarik untuk dibahas
3.      Keterkenalan dan kemasyhuran itu, pada perkembangan selanjutnya menjadi salah satu tokoh yang diunggulkan dalam bursa pemilihan presiden tahun 2014, bahkan Mahfud MD sudah mendeklarasikan kesiapannya untuk menjadi calon presiden 2014.
4.      Perjalanan hidup yang dijalani Mahfud MD hingga sukses seperti sekarang, sangat menarik dan tentu akan menciptakan kesan yang berbeda ketika dianalisis, dibahas, dan dijelaskan menggunakan pisau psikologi politik melalui analisa kepribadian Psikobiografi
5.      Sebagai orang yang sama-sama terlahir dari suku dan pulau yang sama dengan penulis, membuat kajian ini semakin mudah karena kesamaan tersebut. Satu sisi memang bisa membantu, tapi di sisi lain, akan mendorong penulis untuk memasuki subjektivitas dalam analisis. Tapi, penulis tetap akan selalu berusaha untuk menjelaskan hal tersebut se-objektif mungkin sesuai dengan kerangka dan pisau analisis yang diperlukan.

C.    Biografi Tokoh
Berikut ini penulis uraikan biografi Mahfud MD, yang diperoleh dari beberapa sumber, diantaranya; id.wikipedia.org., www.mahfudmd.com, serta dua buku berjudul “Mahfud MD; Bersih dan Membersihkan”, serta “Satu Jam Lebih Dekat” yang disiarkan oleh tvOne namun dibukukan oleh penerbit Hikmah bertajuk 11 Tokoh Paling Inspiratif Indonesia, dan Mahfud MD termasuk didalamnya.
Nama Lengkap      Mohammad Mahfud MD
Alias                      Mahfud MD | Mahfud
Agama                   Islam
Tempat Lahir         Sampang, Madura, Jawa Timur
Tanggal Lahir        Senin, 13 Mei 1957
Zodiac                   Taurus
Hobby                   Membaca
Warga Negara       Indonesia

BIOGRAFI SINGKAT
Mahfud MD lahir di Sampang, Madura, pada 13 Mei 1957, dalam suasana religius yang sangat tinggi. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil yang taat beragama menciptakan suasana religius itu dalam pendidikan keluarga yang dijalani Mahfud MD dan saudara-saudaranya. Bahkan, salah satu keinginan ayahnya adalah menjadikan Mahfud MD sebagai guru agama, sebuah profesi yang meskipun tidak tergambar secara nyata ketika ia sudah menjadi terkenal seperti saat ini, tapi harus diakui, bahwa Mahfud MD juga pandai dan mempunyai keahlian yang mumpuni dalam hal kajian keagamaan.
Kehidupan masa kecil yang dijalaninya di daerah utara Pamekasan, tepatnya Waru, membentuk Mahfud MD sebagai anak kecil yang pandai, terbukti ia lulus dengan nilai yang sangat baik dan sebenarnya bisa masuk ke SMP yang paling diminati di Pamekasan waktu itu, tapi pada akhirnya menjatuhkan pilihan untuk mask ke PGAN. Mahfud MD juga mencicipi pendidikan Madrasah Diniyah yang dilaksanakan sore hari, dan pernah nyantri di pondok pesantren, yang sekarang dikenal dengan, Al-Mardliyyah.
Perjalanan hidup selanjutnya memngantarkan untuk menyelesaikan sekolah di PGAN, dan seelah lulus ia melanjutkan pendidikannya ke kota pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta. Di kota inilah, karakter dan kepribadian Mahfud MD semakin berkembang membentuk semakin sempurna melalu berbagai kegiatan, sosialisasi, interaksi yang sifatnya akademis, maupun aktif dalam organisasi. Kehidupannya di kota Yogyakarta membuatnya banyak belajar dari orang-orang disekitarnya serta dari hidup keras yang dijalaninya. Namun, tidak melupakan nilai-nilai, keyakinan, serta hal baik yang sudah tertanam sebelumnya.
Dari kota inilah, tangga kesuksesan berhasil satu persatu dinaiki olehnya melalui perjuangan keras dan murni, mulai dari dosen, peneliti, staf ahli kementerian, menteri, dan hakim di Mahkamah Konstitusi. Atas capaian prestatif yang diraihnya, banyak gelar dan julukan yang diberikan kepadanya, seperti Pendekar Hukum, misalnya. Namun, sebagaimana yang dikatakannya dalam wawancara dengan wawantaran tvOne, bahwa ia selalu berusaha untuk santun, tidak besar kepala, dan tetap seperti biasa dan sebagaimana seharusnya.
Mahfud MD memulai karier sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada tahun 1984 dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pada 1986-1988, Mahfud dipercaya memangku jabatan Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara FH UII, dan berlanjut dilantik menjadi Pembantu Dekan II Fakultas Hukum UII dari 1988 hingga 1990. Pada tahun 1993, gelar Doktor telah diraihnya dari Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Berikutnya, jabatan sebagai Direktur Karyasiswa UII dijalani dari 1991 sampai dengan 1993. Pada 1994, UII memilihnya sebagai Pembantu Rektor I untuk masa jabatan 1994-1998. Di tahun 1997-1999, Mahfud tercatat sebagai Anggota Panelis Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Mahfud sempat juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UII pada 1998-2001.
Dalam rentang waktu yang sama yakni 1998-1999 Mahfud juga menjabat sebagai Asesor pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Puncaknya, Mahfud MD dikukuhkan sebagai Guru Besar atau Profesor bidang Politik Hukum pada tahun 2000, dalam usia masih relatif muda yakni 40 tahun.
Mahfud tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Hukum UII pertama yang meraih derajat Doktor pada tahun 1993. Dia meloncat mendahului bekas dosen dan senior-seniornya di UII, bahkan tidak sedikit dari bekas dosen dan senior-seniornya yang kemudian menjadi mahasiswa atau dibimbingnya dalam menempuh pendidikan pascasarjana.
Karier Mahfud kian cemerlang, tidak saja dalam lingkup akademik tetapi masuk ke jajaran birokrasi eksekutif di level pusat ketika di tahun 1999-2000 didaulat menjadi Pelaksana Tugas Staf Ahli Menteri Negara Urusan HAM (Eselon I B). Berikutnya pada tahun 2000 diangkat pada jabatan Eselon I A sebagai Deputi Menteri Negara Urusan HAM, yang membidangi produk legislasi urusan HAM.
Belum cukup sampai di situ, kariernya terus menanjak pada 2000-2001 saat mantan aktivis HMI ini dikukuhkan sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sebelumnya, Mahfud ditawari jabatan Jaksa Agung oleh Presiden Abdurrahman Wahid tetapi menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan teknis.
Selain menjadi Menteri Pertahanan, Mahfud sempat pula merangkap sebagai Menteri Kehakiman dan HAM setelah Yusril Ihza Mahendra diberhentikan sebagai Menteri Kehakiman dan HAM oleh Presiden Gus Dur pada 8 Februari 2001. Meski diakui, Mahfud tidak pernah efektif menjadi Menteri Kehakiman karena diangkat pada 20 Juli 2001 dan Senin, 23 Juli, Gus Dur lengser. Sejak itu Mahfud menjadi Menteri Kehakiman dan HAM demisioner.
Mahfud MD terpilih menggantikan hakim Konstitusi Achmad Roestandi yang memasuki masa purna tugas. Selanjutnya, pada pemilihan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang berlangsung terbuka di ruang sidang pleno Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa 19 Agustus 2008, Mahfud MD terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2011 menggantikan ketua sebelumnya, Jimly Asshiddiqie.

PENDIDIKAN
·         Madrasah Ibtida'iyah di Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura.
·         SD Negeri Waru Pamekasan, Madura.
·         Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), SLTP. 4 Tahun, Pamekasan Madura
·         Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), SLTA 3 Tahun, Yogyakarta.
·         S1 Fakultas Hukum, Jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
·         S1 Fakultas Sastra dan Kebudayaan (Sasdaya) Jurusan Sastra Arab, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
·         Program Pasca Sarjana S2, Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
·         Program Doktoral S3, Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

KARIR
·         Jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi RI (2008 – 2013).
·         Staf pengajar dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sejak tahun 1984. Dimulai dari menjadi Dosen Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1984-Sekarang). Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (1986-1988). Pembantu Dekan II Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (1988-1980). Direktur Karyasiswa, Universitas Islam Indonesia (1991-1993). Pembantu Rektor I Universitas Islam Indonesia (1994-2000). Direktur Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (1996-2000)
·         Menteri Pertahanan RI (2000-2001)
·         Menteri Kehakiman dan HAM (2001)
·         Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (2002-2005)
·         Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006)
·         Anggota DPR-RI, duduk Komisi III (2004-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi I (2006-2007), Anggota DPR-RI, duduk di Komisi III (2007-2008)
·         Wakil Ketua Badan Legislatif DPR-RI (2007-2008)
·         Anggota Tim Konsultan Ahli Pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum-HAM Republik Indonesia.
·         Aktif mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII), UGM, UNS, UI, Unsoed, dan lebih dari 10 Universitas lainnya pada program Pasca Sarjana S2 & S3. Mata kuliah yang diajarkan adalah Politik Hukum, Hukum Tata Negara, Negara Hukum dan Demokrasi serta pembimbing penulisan tesis dan desertasi.

D.    Kutipan-kutipan Bijak Tokoh
Berikut ini adalah statement, kalimat-kalimat bijak, serta ungkapan-ungkapan yang merepresentasikan bagaimana Mahfud MD sebenarnya adalah orang yang yang mempunyai karakter kepribadian kuat sebagai seorang yang pemberani, tegas, religius, cerdas, dan santun. Kutipan ini diperoleh dari website pribadinya;
1.      Apa yang terjadi adalah kebenaran yang harus dihormati dan harus dilaksanakan. Jadi, jangan berani melawan arus kekuatan rakyat. Dalam sejarah, tidak ada yang menang dalam melawan arus rakyat. Pasti digilas.
(Pernyataan Moh. Mahfud MD, dalam berbagai kesempatan wawancara dengan wartawan)
2.      "Hakim tidak bisa didikte siapapun. Ini lembaga kebanggaan. Kami menyadari tanggung jawab kami sangat berat".
(Moh. Mahfud MD. Kata Sambutan pada Pelantikan Ketua MK)
3.      Ini harus saya jelaskan karena saya hakim. Hakim tidak boleh kotor
(Moh. Mahfud MD, Ketika Melaporkan Harta Kekayaan ke KPK, Rabu, 23/07/2008)
4.      Terngiang dalam ingatan saya perkataan Abu Bakar As Siddiq ketika beliau diangkat sebagai khalifah. Dia berkata jika selama saya memimpin dianggap benar, maka tolonglah saya. Tapi kalau salah ingatkan saya”.
(Moh. Mahfud MD, Kata Sambutan pada Pelantikan Ketua MK, Kamis, 21/08/2008)
5.      “…Memperjuangkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta itu adalah memperjuangkan substansinya yang universal, seperti keadilan, kejujuran, amanah, demokrasi, menghormati HAM dan Sebagainya, sedangkan formalitas kelembagaannya tidak menjadi keharusan”.
(Moh. Mahfud MD, dalam Buku “Setahun Bersama Gusdur, Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit.”, LP3ES, Jakarta, hlm. 71)
6.      Demokrasi yang hendak kita bangun adalah demokrasi yang menjunjung tinggi amanah dan akhlaqul karimah..”
(Moh. Mahfud MD, Peringatan Isra` Mi`raj : 2009)

E.     Analisa Kepribadian – Psikoanalisis
Psikoanalisis adalah madzhab pertama dalam psikologi yang dikomandani oleh Sigmund Freud sebagai tokoh utamanya. Meski banyak pihak yang mempertanyakan, mengkritisi, dan bahkan mencaci-maki teori dari aliran ini, tapi fakta membuktikan, bahwa psikoanalisis tetap “laku” di pasaran dan masih banyak yang menggunakannya sebagai pisau analisis dalam kasus-kasus psikologis.
Psikoanalisis mencoba melihat kepribadian seseorang melalui struktur “dalam” yang selama ini jarang untuk dieksploitasi, karena menurut mereka, individu itu seperti gunung es (iceberg) dimana, yang tersembunyi di bawah lautan justru berkali lipat dari apa yang muncul dipermukaan, dan sejatinya itulah kenapa psikologi itu ada, yaitu untuk mengovertkan sesuatu yang covert dari seseorang. Maka, dalam konteks ini psikoanalisis kemudian membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga, yaitu id, ego, dan super ego. Freud percaya bahwa perilaku yang ditampilkan oleh seseorang adalah manifestasi dari apa yang ada dalam alam bawah sadar mereka (unconsciousness), sehingga untuk menyembuhkan seseorang yang sedang mengalami masalah psikologis, tidak mungkin jika tidak dapat menyingkap apa yang ada dalam diri orang tersebut.
Menurut psikoanalisis, id yang mempunyai pleasure principle, cenderung agresif, tidak “mengenal aturan”, dan selalu ingin dipenuhi adalah modal dasar yang dimiliki oleh manusia sehingga menurut mereka, manusia adalah makhluk yang jahat karena selalu dipenuhi dengan keinginan-keinginan serta fantasi yang bergejolak dalam alam bawah sadarnya. Kemudian, apa yang menjadi keinginan dari id, tidak selalu berjalan dengan mulus karena ada super ego yang menyeleksi yang mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Super ego adalah seperangkat piranti yang bertugas untuk memproteksi ego dari hal yang tidak diinginkan oleh lingkungan dan masyarakat sehingga setiap saat akan selalu ada pertentangan antara id dan super ego. Sementara ego berfungsi sebagai “diri” yang eksekutor. Lemah dan tidaknya ego, bergantung pada siapa yang memenangkan “pertempuran” antara id dan super ego.
Dalam konteks ini, siapa pun yang kalah dan yang menang, tidak akan melepaskan manusia dari masalah. Jika super ego yang menang, maka manusia akan berada pada kecemasan-kecemasan yang berakhir pada mekanisme mempertahankan diri. Sementara jika id yang menang, akan ada masalah karena telah menentang hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Sehingga, tidak aneh ketika aliran ini mengatakan bahwa manusia selalu dipenuhi impuls dan dorongan yang bermunculan dalam diri dan setiap saat dapat menjadi bayang-bayang masalah dalam hidupnya.
Berdasarkan teori ini, bagaimana dinamika yang ada pada Mahfud MD dan pergolakan yang ada dalam dirinya? Pertanyaan ini tentu saja akan lebih valid ketika wawancara langsung dengan yang bersangkutan, tapi berdasarkan perjalanan hidup yang dialaminya, penulis bisa menyimpulkan dan menjelaskan beberapa hal terkait dengan pembentukan karakter dan kepribadian Mahfud MD berdasarkan teori psikoanalisis.
Mahfud MD, sama sebagaimana manusia dan id pada umumnya. Namun yang paling penting untuk dijelaskan dalam makalah ini adalah, bahwa super ego yang dimiliki oleh Mahfud MD sangat kuat, terutama ajaran dan keinginan orang tua yang sangat religius. Super ego, baik kehidupan sosial dan religiusnya, itulah yang membuatnya mempunyai karakter yang patuh dan turut pada aturan. Tentu saja selama itu tidak menyimpang dari hal-hal yang menjadi prinsip dan keyakinannya dalam hidup. Hal ini dapat dilihat dari kepatuhannya pada aturan agama serta undang-undang dan peraturan negara, bahkan ia tidak mau menerima pemberian yang “berlebihan” dan mengembalikannya pada negara serta termasuk pegawai yang rajin melaporkan kekayaan pribadi yang dimilikinya.
Kehidupan masa kecil yang penuh pembelajaran, terutama dari ayahnya, membuat Mahfud menjadi pribadi yang berbeda. Faktor orang tua dan lingkungannya memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, terutama pada masa kanak-kanak. Kehidupan keluarganya yang lebih “mujur” dari kebanyakan keluarga pada waktu itu, karena ayahnya menjadi pegawai negeri, sedikit banyak juga mempengaruhi cara mendidik serta pembelajaran dalam keluarga tersebut. Kehidupan di Madura yang rata-rata penduduknya adalah petani, apalagi hal itu terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, tentu tidak banyak orang yang mempunyai kesadaran untuk menjadikan anaknya sebagai guru agama, sebagaimana yang dinginkan oleh ayahnya, atau mungkin pendidikan masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Tapi itu tidak terjadi di keluarga Mahfud.
Jadi, kepribadian Mahfud MD dibentuk ketika kecil dan sampai sekarang melalui tempaan terhadap super ego yang kuat sehingga menjadi ego (diri) yang seperti sekarang. Lalu bagaimana dengan id-nya? Tentu saja, Mahfud bukanlah makhluk suci yang tidak pernah melakukan kesalahan dan kealpaan karena itu sangat menusia sekali. Tapi kenalan itu bukanlah bentuk pembangkangan serta kenakalan yang memang benar-benar tidak beralasan kecuali palanggaran. Kenakalan kecil sebagai anak kecil tentu dilakukan setiap orang, itu mudah dipahami.
Salah satu yang paling membekas dalam ingatannya ketika ia menceritakan kesukaannya membaca serial cerita silat Kho Ping Hoo karangan Asmaraman. Ia menceritakan kalau untuk membaca itu ia harus bersembunyi dari ayahnya agar tidak ketahuan karena ayahnya takut bacaan didalamnya mengandung hal-hal yang tidak benarkan oleh agama. Namun, justru dari cerita-cerita itulah ia mendapatkan pengalaman dan pembelajaran hidup yang berharga, dan bahkan masih diingat dan dijalankannya sampai sekarang. Termasuk untuk selalu tahan dalam menghadapi berbagai situasi, dan selalu santun meskipun menjadi pendekar (dalam cerita itu) yang tidak bisa ditandingi.
Id, sebagaimana biasa, ia selalu menuntut untuk dipenuhi, tapi karena super ego, pertimbangan, dan logika yang tangguh, hal itu mampu diatur oleh Mahfud dengan baik. Keinginan dari id yang tidak tersalurkan itu, ia sublimasi dan alihkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif. Bisa dilihat dari kesenangannya untuk menulis, meneliti, membaca, dan jalan-jalan. Pada track record hidupnya, Mahfud MD bisa dikatakan sebagai orang yang bersih (sekaligus membersihkan) karena tidak ada catatan kenakalan yang terekam. Nakal dalam arti yang sebenarnya, bukan nakal karena memberontak atas kelaliman dan ketidak-beresan sebagaimana sering dilakukannya ketika masih menjadi aktivis HMI di Yogyakarta.
Namun yang paling penting, bahwa kepribadian yang diperoleh Mahfud adalah hasil dari pembelajaran hidup dari lingkungan dan teman-teman yang menghiasi kehidupannya. Teman-teman di kampusnya, teman-teman sesama pegawai, teman-teman pejabat, serta lingkungan lainnya dan termasuk juga Gus Dur, yang mempunyai tempat tersendiri bagi Mahfud MD.
Dan pada akhirnya, semua itu berhasil mencetak Mahfud MD sebagai manusia yang unggul, berprestasi, tegas, cerdas, religius, berani, dan tentu saja santun.

F.     Analisa Kepribadian Berdasarkan Peristiwa
Pada bagian ini akan dibahas bagaimana kepribadian Mahfud MD dalam konteks tertentu sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Sebagai seorang tokoh yang dikenal oleh banyak orang, tentu siapapun bisa dengan mudah melihat bagaimana karakter dan kepribadian Mahfud MD karena seringkali muncul di televisi atau di koran-koran nasional.
1.      Pemberani dan Pendobrak
Harus diakui, Mahfud MD adalah seorang yang pemberani. Karakter ini bisa dilihat dari bagaimana ketika ia memimpin Mahkamah Konstitusi dan banyak menghasilkan hukum-hukum luar biasa serta menjadikan Mahkamah Konstitusi sebagai oase ditengah keringnya kepercayaan rakyat Indonesia terhadap hukum dan peradilan.
Ia sangat berani menghadapi kasus Cicak versus Buaya (Bibit-Candra dari KPK melawan Kepolisian) yang membuat heboh nasional karena keberanian Mahfud MD untuk memperdengarkan hasil rekaman yang menjadi alat bukti kunci dari kasus tersebut. Ia berani menyampaikan pandangannya tentang hukum agar mencapaikan apa yang disebutnya sebagai keadilan yang substantif bukan prosedural semata. Pada titik ini, seorang hakim diberikan ruang kreativitas untuk mencapai keadilan yang diinginkan.
Tidak hanya berani, Mahfud MD juga pantas disebut sebagai sang pedobrak karena kepribadian sederhana ala ndeso tidak menyulutkan semangatnya untuk berkontribusi terhadap negeri melalui jalur hukum, keadilan, dan perundang-undangan. Bidang yang membutuhkan kerja keras dan setiap saat selalu siap untuk dibenci oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tersembunyi.
Pada sikap berani dan pendobrak itulah, Mahfud MD hampir mirip dengan Gus Dur (hal ini juga diakui oleh Yenny, putri dari Alm. Gus Dur) bahkan terkadang dianggap sebagai orang aneh dan nyeleneh. Bahkan hal ini bisa dilihat dari keberaniannya membantu dalam proses pendirian PMII (organisasi masa yang sering diasumsikan sebagai lawan HMI) di UII, sementara ia sendiri adalah aktivis HMI. Dari peristiwa ini, tentu hanya seorang pemberani dan pendobraklah yang bisa melakukannya.
2.      Tegas tapi Santun dan Religius
Mahfud MD adalah tipikal orang yang tidak bisa berdamai dengan sesuatu yang tidak bisa ditolerir dari segi hukum. Ia akan selalu tegas terhadap semua bentuk pelanggaran dan penyelewengan yang dilakukan oleh siapa pun, kapan pun, dan atas nama apa pun yang menyimpang undang-undang. Ketegasan itu bisa dilihat dari keberaniannya memutuskan perkara-perkara yang masuk ke meja Mahkamah Konstitusi, dengan putusan perkara yang hampir pasti menimbulkan konflik jika tidak dilakukan  dan dilandasi dengan ketegasan, sekaligus keberanian.
Selain itu, ia juga memiliku kepribadian yang santun dalam menghadapi pertarungan, perlawanan, serta pertentangan dengan pihak-pihak yang menentangnya. Sebagai contoh, bagaimana ia menghadapi statement Ruhut Sitompul yang gencar menghakiminya sebagai “profesor kacangan” dan diajak berdebat. Mahfud MD menghadapinya dengan santai serta santun, dan tampil lebih bersikap sebagai negarawan yang selalu memandang pihak-pihak yang menentang bukan dengan wajah keras dan kasar. Kesantunan itu juga tampak dari sikap rendah hati meski menjadi salah satu tokoh yang dihormati, disegani,  dan menjadi salah satu kandidat pilihan alternatif untuk menjadi presiden 2014 nanti. Kehidupan religiusnya terlihat dari bagaimana ia mengamalkan ajaran-ajaran agama yang sopan, toleran, menghargai perbedaan, dan demokratis.
3.      Mencintai Kebenaran dan Keadilan
Kepribadian yang ditunjukkan oleh Mahfud MD adalah bagian dari kecintaannya terhadap kebenaran dan keadilan dalam hukum. Sehingga tidak pernah ada toleransi untuk mencapai keduanya. Untuk itulah, dalam bidang hukum, ia mengusulkan agar setiap keputusan dalam pengadilan harus berdasarkan fakta yang valid dan untuk mencapai keadilan yang substantif. Artinya, keadilan yang benar-benar adil tidak hanya pada tataran prosedurnya saja, tapi jauh lebih pada hakikatnya keputusan itu sendiri.
4.      Mewarisi sifat Nabi
Mahfud MD adalah salah seorang yang mewarisi sifat para Nabi, yaitu Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Shidiq terungkap dari kehidupannya yang tidak pernah tersangkut masalah karena kebohongan yang pernah dilakukannya. Catatan hidupnya, selama yang bisa dilihat dan diamati, selalu berlangsung dalam ruang kejujuran kepada siapa pun.
Amanah juga bisa dilihat dari keberhasilannya melaksanakan tugas-tugas mulai dari menjadi dosen, pembantu rektor, anggota dewan, menteri, dan bahkan ketika menjadi hakim dan ketua Mahkamah Konstitusi dengan pencapaian yang hebat. Itu dilakukan karena ia menjaga dengan baik amanah yang disematkan padanya. Tabligh dapat dilihat dari keberaniannya untuk menyampaikan yang benar meski menyakitkan. Ia menyampaikan kenyataan dan fakta meski menakutkan. Ia menyampaikan kebanaran, baik dalam posisinya sebagai dosen hingga bertugas di Mahkamah Konstitusi.
Sementara sikap Fathanah sangat jelas tergambar dari kecerdasannya dalam menghadapi setiap masalah. Kecerdasan yang dimilikinya juga mampu mengantarkan meraih gelar profesor dalam usia yang relatif muda, yaitu 40 tahun.
Tentu saja masih banyak keperibadian lain yang tidak bisa penulis jangkau karena terkait dengan sumber yang harus lebih luas serta seharusnya melakukan wawancara langsung dengan yang bersangkutan sehingga menghasilkan analisis yang lebih tajam dan lebih bisa dipertanggung jawabkan, seperti karakter sosial, kepercayaan serta belief yang dimiliki.




PENUTUP

Beberapa Catatan; Sebuah akhiran

Beberapa penjelasan tentang kepribadian yang dimiliki oleh Mahfud MD di atas tentu saja berusaha menjelaskan kepribadian yang dimilikinya secara positif berdasarkan sumber yang penulis temukan. Tentu saja, karena makalah ini tidak untuk menghakimi siapapun, terutama tokoh, karena itu sangatlah tidak pantas. Namun, sebagai sebuah penyemibang, berikut dijelaskan tentang bagaimana kepribadin itu seharusnya.
Sebagai sebuah catatan untuk mengakhiri makalah ini adalah, bahwa sikap yang dimiliki oleh Mahfud MD harus dilakukan secara tepat dan proporsional, sesuai dengan kontek dan logika yang mudah. Artinya, seseorang bisa saja mempunyai kepribadian yang serupa dengan Mahfud MD, tapi ia tidak menjadi seperti Mahfud MD karena konteksnya yang berbeda.
Dalam sebuah kaidah dikatakan, bahwa sesuatu yang dilakukan secara berlebihan bisa menyebabkan dampak yang tidak diinginkan dan cenderung negatif. Keberanian dan sikap mendobrak yang dilakukan oleh Mahfud MD jika dilakukan secara berlebihan akan membuat seseorang terlena dan kurang bisa berpikir dengan logika yang lebih lurus. Sehingga akan terkesan egois dan suka memaksakan kehendak. Sementara sikap rendah hari dan santun, jika dilakukan secara berlebihan pun juga tidaklah bijak (dalam konteks manusia, bukan nabi atau malaikat). Kesantunan dan kesopanan yang berlebihan akan membuat seseorang menjadi kurang kreatif, terbelenggu, dan terkungkung dengan paham-paham serta paradigma yang kaku. Dan begitu juga dengan kepribadian yang lainnya.
Jadi, siapapun harus melakukan dan menampilkan kepribadiannya secara tepat dan proporsional, sementara Mahfud MD untuk saat ini berhasil menunjukkan itu.



Daftar Pustaka

1.      id.wikipedia.org.,
2.      www.mahfudmd.com,
3.      Baidlowi, M & Mustary R. “Mahfud MD; Bersih dan Membersihkan”. Raja Grafindo: Jakarta. Cet. I (2013)
4.      “Satu Jam Lebih Dekat” dibukukan oleh penerbit Hikmah bertajuk “11 Tokoh Paling Inspiratif Indonesia,” dan Mahfud MD termasuk didalamnya. (hal 67 – 88)
5.      Slide mata kuliah Psikologi Politik Semester VII oleh Ima Sri Rahmani, MA., Psi


[1] Cottam, dkk. membagi sejarah Psikologi Politik menjadi empat tahap; 1. Masa pertumbuhan (1920-an), 2. Masa pertumbuhan (1940-1950-an), 3. Masa Pertumbuhan (1960-1980-an), 4. Masa Pertumbuhan (1990-sekarang)

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 comments:

Post a Comment

Aku Tunggu Komentarmu...

 

© 2013 Mustafa Afif. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top